Makanan manis sering kali jadi “tersangka utama” saat gigi mulai terasa ngilu atau muncul lubang. Tapi benarkah gula selalu jadi penyebab utama gigi rusak? Atau justru ada faktor lain yang sering luput dari perhatian?
Sebagai dokter gigi Bali, Omnident Bali cukup sering menemui pasien yang mengira masalah gigi mereka semata-mata karena permen, cokelat, atau minuman manis. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu.
Jawabannya: bisa iya, bisa tidak, tergantung kebiasaan dan perawatan giginya.
Gula sendiri sebenarnya tidak langsung merusak gigi. Masalah muncul ketika gula bertemu dengan bakteri di dalam mulut. Bakteri ini akan mengolah gula menjadi asam, dan asam inilah yang perlahan mengikis lapisan email gigi.
Ketika Anda sering mengonsumsi makanan atau minuman manis tanpa membersihkan gigi dengan benar, bakteri akan berkembang lebih cepat. Lama-kelamaan, asam yang dihasilkan akan membuat email gigi menipis dan akhirnya terbentuk lubang.
Inilah alasan mengapa dokter gigi Bali sering menekankan bahwa frekuensi makan manis dan kebersihan mulut jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar “berapa manis” makanannya.
Tidak semua makanan manis memberikan dampak yang sama pada gigi.
Permen lengket, karamel, atau kue manis cenderung menempel lebih lama di permukaan gigi. Ini membuat bakteri punya waktu lebih panjang untuk menghasilkan asam.
Teh manis, kopi susu, dan minuman bersoda sering dikonsumsi sedikit demi sedikit sepanjang hari. Kebiasaan ini justru lebih berisiko dibanding makan manis sekali lalu langsung menyikat gigi.
Sebagai dokter gigi Bali, Omnident Bali sering menemukan kasus di mana pasien rutin menyikat gigi, tetapi caranya belum tepat atau waktunya kurang ideal.
Beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:
Plak yang menumpuk dan tidak terlihat inilah yang sering menjadi awal berbagai masalah gigi.
Perawatan di rumah memang penting, tapi pemeriksaan rutin ke dokter gigi Bali tetap dibutuhkan. Dengan pemeriksaan berkala, masalah kecil bisa terdeteksi lebih awal sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Di Omnident Bali, pasien tidak hanya datang saat gigi terasa sakit. Banyak yang datang untuk perawatan preventif seperti scaling atau konsultasi kesehatan gigi secara menyeluruh, sehingga risiko kerusakan gigi akibat makanan manis bisa ditekan sejak awal.
Makanan manis memang berpotensi merusak gigi, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Kebiasaan makan, cara membersihkan gigi, dan rutinitas kontrol ke dokter gigi memegang peran yang jauh lebih besar.
Copyright © 2025 Klinik Gigi Omnident Bali | Developed by Gleamore.id